Tampilkan postingan dengan label Kisah Hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Hidup. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 Agustus 2011

Kisah Sukses Pedagang Tepung yang dulunya adalah Kuli

Jono Glepung, Timbun Untung dari Tepung



Jono Glepung pernah hampir putus asa. Dulu, ketika masih berproses mencari sumber kehidupan, berbagai pekerjaan berat pernah dijalani. Ketika keliling bersepeda menjual rambak, setiap kali pulang dengan tangan hampa dan di keranjang masih penuh dagangan, sering terbesit pemikiran untuk membuang rombong beserta isinya di kali.

Untunglah, niat itu tak kesampaian. Dia tabah dalam menjalani proses berikutnya, menjadi tukang tebas melinjo. Ternyata, pilihan itu juga kurang tepat. Meski, hasilnya lumayan.

Ketika keliling cari dagang itulah, Jono menemukan perusahaan Yangko SMD Sorosutan. Tahun 1994, dia diminta kerja di sana.

Tawaran tersebut justru menggugah ingatannya. Bahwa dia punya banyak pengalaman di bisnis tepung Yangko. Maka, timbul pemikiran, mengapa tidak kembali menekuni tepung yangko?

Apalagi ketika itu dia sudah punya tabungan. Cukup untuk membeli mesin giling yangko. “Saya pikir tepung inilah dunia hidup saya. Jadi, buat apa kerja yang lainnya,” kenang Jono.

Menikahi Warsiyati tahun 1996. Kehidupannya mulai mapan. Pelanggannya tambah banyak. Baik yang minta jasa penggilingan maupun beli tepung yangko.

Para pengusaha yangko lebih suka membeli tepung jadi. Karena, proses penepungan memang rumit. Untuk mendapatkan kualitas tepung yangko yang bagus, dibutuhkan ketelatenan serta proses yang panjang. Juga,harus memperhatikan perubahan cuaca.

Cuaca cerah dan panas sangat baik untuk melakukan produksi tepung yangko.

Proses

Menurut Jono Glepung, sebelum menjadi tepung siap pakai, proses awal yang harus dikerjakan adalah menanak beras ketan. Setelah masak, beras yang sudah menjadi nasi ketan, dijemur.

Proses penjemuran harus telaten. Jangan terlalu tebal, agar cepat kering. Memakan waktu 2-3 hari. Tugas ini biasa dikerjakan oleh Warsiyati dan ibunya.

Saat menanak beras ketan ini harus melihat cuaca. Jika cuaca kurang baik, cukup 50 kilogram. Tapi kalau panas dan cuaca sangat cerah, berani menanak ketak sampai 2 kwintal.

Setelah kering, nasi ketan memasuki proses sosoh, memecah nasi ketan kering dengan menggunakan mesin penggiling tanpa saringan. Tujuannya agar kerak nasi ketan bisa terpisah satu sama lainnya menjadi seperti beras masak.

Kemudian disaring atau diinteri. Dipisahkan antara yang lembut dan yang masih kasar.

Proses selanjutnya, nasi ketan kering itu digoreng sangan atau disangrai. Diistilahkan, mbrondong, karena hasilnya seperti brondong beras. Proses mbrondong ini membutuhkan kesabaran dan waktu cukup lama. Untuk seharinya seorang hanya bisa mengerjakan paling banyak hanya 25 kilogram.

Setelah menjadi brondong, digiling dengan menggunakan saringan lembut. Membutuhkan waktu lama. Satu kwintal brondong nasi ketan kering membutuhkan waktu satu setengah jam untuk menjadi tempung yangko berkualitas.

Karena rumitnya proses pembuatan tepung yangko, harganya juga lumayan mahal, Rp. 13.000 / kg.

Untuk semua proses itu Jono dibantu beberapa tenaga kerja. Khusus untuk proses giling, biasanya mulai bekerja setelah Subuh. Setiap hari, ada 3 mesin giling beroperasi.

Menurut Jono, memang ada yang hanya melakukan proses instan dalam membuat tepung ketan. Beras hanya direndam dan kemudian ditiriskan. Setelah kering digiling. Tapi proses ini tidak baik. Yangko tidak tahan lama.

Hampir semua penguasaha yangko menjadi pelanggan Jono Glepung. Pada hari-hari biasa permintaan tepung yangko memang tidak begitu banyak. Tapi paling sedikit, per hari 2 – 3 kwintal tepung yangko.

Pasang surut usaha memang harus dilakoninya. Gempa 2006 yang meluluh lantakan wilayah Pleret juga menimpa usahanya. Pasca gempa, dia harus menata kembali bisnisnya. Jika sebelum gempa omzet perhari mencapai Rp. 8 juta. Sekarang kisaran Rp. 2 juga – 3 juta. Yang jelas, lonjakan ekonomi Jono sangat kelihatan, setelah menekuni tepung yangko. Rumah tinggalnya yang berdiri cukup megah. Sepasang gebyok kayu jati tua denan ukiran khas menghiasi bagian depan rumah. Mobil angkutan serta mobil keluarga. Tapi semua itu tetap terbungkus dengan sikap kesederhanaannya dalam pergaulannya bermasyarakat.



Sejarah kehidupan OSAMA BIN LADEN yang sebenarnya

Setiap orang tentu paham bila disodori nama: Osama Bin Laden. Tapi bagaiamana kiprahnya, tidak semua orang paham. Tokoh yang tercatat dalam buku orang terkenal di dunia ini lahir di Riyad, Saudi Arabia pada tahun 1957. Karena beberapa peristiwa dunia, ia dikenal sebagai dalam teroris melawan Amerika Serikat dan kekuatan barat lainnya. Termasuk pemboman Pusat Perdagangan Kota New York tahun 1993, bom bunuh diri pada kapal perang Amerika Serikat tahun 2000 dan serangan ke Pusat Perdagangan Dunia di kota New York serta Pentagon dengan Washington, D.C tanggal 11 September 2001. Tapi, sebenarnya namanya tidak tercantum dalam daftar orang yang melakukan serangan, namun ia dianggap sebagai dalang yang paling dicari dan menjadikannya sebagai 10 oran gyang paling dicari FBI.

Tepatnya, dia lahir 10 Maret 1957. Ayahnya, Muhammad Awad bin Laden adalah seorang pengusaha kaya yang memiliki hubungan dekat dengan keluarga kerajaan Saudi. Osama bin Laden adalah putra tunggal Muhammad bin Laden adalah putra tunggal Muhammad bin Laden dari istri kesepuluh, Hamidah al Attas. Orang tuanya bercerai setelah ia lahir. Ibu Osama kemudian menikah dengan Muhammad al-Attas. Osama belajar ekonomi dan administrasi bisnis di King Abdulaziz University. Ia meraih gelar sarjana teknik sipil pada tahun 1979 dan gelar sarjana administrasi public pada tahun 1981. Ada yang menginformasikan, dia meninggalkan universitas pada tahun ketiga perkuliahannya dan tidak pernah meraih gelar sarjana. Tapi Osama sangat berminat terhadap agama.

Dengan terus terang ia menyatakan keberatan atas kehadiran pasuklan Amerika Serikat di Saudi Arabia selama Perang Teluk Persia. Sehingga, pada tahun 1993 ia mendirikan jaringan yang dikenal dengan nama al-Qaeda.

Kelompok yang dipimpinnya mendanai dan mengorganisir beberapa serangan ke seluruh dunia,t ermasuk bom truck detonasi melawan Amerika. Target yang pernah dicapai, di Saudi Arabia pada tahun 1996, pembunuhan turis di Mesir pada tahun 1997 dan pemboman secara simultan di kedutaan Amerika Serikat di Nairobi, Kenya dan Dar es Sallam, Tanzania pada tahun 1998. Jumlah pembunuhan atas koordinasinya hampir 300 orang.

Pada tahun 1994, pemerintah Saudi Arabia menyita paspornya setelah menuduhnya melakukan subversi. Ia lari ke Sudan dan mengorganisir camps yang melatih militant dengan metode teroris dan akhirnya ia lari pad athaun 1996, kembali ke Afghanistan dan menerima perlindungan dari pemimpin militant Taliban. Sejak tahun 2001, Osama Bin Laden dan organisasinya menjadi sasaran utama Amerika sebagai kampanye perang terhadap teroris. Osama dan rekan pimpinan Al-Qaeda diyakini bersembunyi di dekat perbatasan Afghanistan dan Pakistan.

Desember 2001, Pakistan Observer melaporkan bahwa, Osama Bin Laden meninggal akibat komplikasi paru-paru dan dikubur dalam sebuah makam tak bertanda di Tora bora pada 15 Desember. Laporan ini diklarifikasikan Fox News di Amerika Serikat pada Desember 26. Juga pada 26 Desember Koran Mesir Al Wafd – Harian mengklarifikasikan kabar tersebut dan menyebutkan bahwa pejabat terkemuka Afghan Taliban, yang diduga hadir di pemakaman, menyatakan bin Laten telah dimakamkan pada atau sekitar tanggal 13 Desember.

Selengkapnya diuraikan pada alamat berikut dibawah berikut Perjalan kehidupan Osama Bin Laden yang sebenarnya



Perjalan kehidupan Osama Bin Laden yang sebenarnya

Gurun tanpa air


Orang mengenal Osama bin Laden sebagai buron teroris nomor wahid di dunia. Jarang sekali orang mengetahui sisi lain dari kehidupan Osama. Istri pertama Osama, Najwa bin Laden menguak realitas lain. Najwa mengatakan, Osama adalah sosok ayah yang sangat disiplin. Osama tak ragu memuluk anaknya yang tersenyum sengat lebar, hingga terlihat deret giginya.

Di sisi lain Osama punya kegemaran berkebun bunga matahari dan menganggap mobil sportnya selayak isteri pertamanya. Di rumahnya, Osama mengharamkan pemakaian alat-alat elektronik. Dia juga memerintahkan anak-anak lelakinya mendaki gunung pasir di gurun tanpa membawa air. Tujuannya, agar sang anak kuat. Bukan tanpa alasan, Osama berlaku keras pada keluarganya. Itu terkait keputusan Osama untuk menyingkir ke Sudan, sebagai bentuk perlawanan pad akeluarga kerajaan Arab yang mempersilahkan tentara AS bermarkas di sana.

Belajar tidur di tempat terbuka dan tak nyaman, serta mendaki gurun pasir, bagi Osama adalah cara dia guna mempersiapkan anak-anaknya dalam menghadapi kehidupan yang sulit dank eras.

Najwa (saat itu 15 tahun) menikahi Bin Laden, saat itu ia berusia 17 tahun. Perkawinan itu membuahkan tujuh anak lelaki dan empat anak perempuan. Najwa bukan satu-satunya istri. Osama memiliki total enam istri yang ditempatkan di rumah-rumah terpisah di Arab Saudi dan Sudan. Peraturan yang diberlakukan untuk keenam istrinya sama, mereka tak boleh menggunakan peralatan elektronik.

“Ayahku tak akan mengijinkan ibu untuk menyalakan pendingin udara, meski AC sudah terpasang di apartemen kami”, kata putra Osama, Omar, seperti dimulat oleh halaman Telgraph. “Dia juga tak mengizinkanibu menggunakan kulkas yang berdiri di dapur”, tambahnya.

Namun, ada satu hal dalam diri Osama yang membanggakan anak-anaknya. Osama kata Omar, jago matematika. Osama bahkan gemar menguji kecepatan hitungnya dengan kalkulator.

“Ayah saya sangat terkenal punya kemampuan hebat di matematika. Banyak yang dating ke rumah sambil membawa kalkulator dan menantang kemampuannya,” tutor Omar

Menurut Najwa, dia dan Osama pernah pergi ke AS pada tahun 1979, pasca revolusi Iran. Di AS Osama bertemu dengan Abdullah Azzan, ulama radikal Palestina yang lantas menjadi guru spritiualnya. Setelah itu, Osama pergi ke Afganistan, membantu kelompok perlawanan terhadap Uni Soviet. Salah satu tujuannya pergi ke Afganistan, sangat romantic, agar bisa menceritakan pada anak-anaknya kisah kepahlawanannya dalam perang. Namun, ketika kembali dari Afgan ceritanya berbeda, Osama menjadi sosok yang kaku.

Dalam buku yang ditulis oleh Najwa, Osama punya satu mobil Mercedes berwarna emas dan speedboat. “Tak ada hal yang memuaskan untuknya selain negebut di gurun, lalu dia akan meninggalkan mobilnya dan berjalan di gurun”, katanya.

“Hobi favoritnya adalah berkebun. Menanam Jagung terbaik dan bunga matahari yang besar,” tambah Najwa.

Tak mau tertangkap

Osama Bin Ladin bersumpah bahwa dirinya tak mau tertanggak hidup-hidup dan telah menyiapkan pistol dengan dua butir peluru pada pengawalnya untuk menembaknyanya seandainya dia tertangkap. Demikian menurut buku baru berita wawancara dengan orang yang mengenal pemipin Al-Qaeda tersebut.

Menyusul serangan 2001 atas Amerika Serikat yang dilakukan oleh Al-Qaidah, pemerintah Bush banyak mengaitkan antara Sadam dan organisasi Bin Ladin itu, dengan menyatakan kaitan itu sebagai pembenaran bagi invasi ke Irak pada tahun 2003.

Penulis biografi Bin Ladin, Hamid Mir dari Pakistan mengungkapkan kepada Bergen bahwa ketika ia mewawancarai Bin Laden, pemimpin Al-Qaeda itu “mengutuk Saddam Hussein.

Dalam wawancara dengan Bergen, mantan pengawal utama Bin Ladin mengatakan, “Sheikh Osama memberikan saya sepucuk pistol dan menjadikan saya pengawal pribadinya. Pistol tersebut hanya berisi dua peluru, agar saya menembak Sheikh Osama bila kami terkepung atau dirinya jatuh ke tangan musuh, sehingga ia tidak tertangkap hdup-hidup”.

Bergen, yang bertemu Bin Laden pada tahun 1997, mewawancari lebihd ari 50 orang selama delapan tahun untuk menghasilkan buku yang akan dipublikasikannya. Benarkah yang ditemukan itu jenazah Osama, Entah lah?

Sumber: Koran Kedaulatan Rakyat

Kamis, 07 Juli 2011

Patung Cumplung membawa Untung


Semula hanya penganyam bambu untuk langit-langit rumah. Tapi, kini Jumari sukses sebagai pengrajin. Produknya mampu menembus pasar negara-negara tetangga, bahkan sampai Timur Tengah.

“Semula, kami memang hidup dengan menganyam kulit bambu. Sampai tahun 1990-an anyaman kulit bambu masih jaya. Saya biasa tidak pulang seminggu sekali karena sibuk mengerjakan proyek pemasangan langit-langit rumah di luar kota, “ kata Jumari.

Dari hasil menganyam kulit bambu itu, Jumari mampu mengentaskan ketiga putranya. Salah seorang putranya kini mengikuti jejaknya menjadi pengrajin kayu. Hasil dari anyaman kulit bambu ketika itu cukup besar.

Sayang, kemajuan zaman melibasnya. Pasaran anyaman bambu untuk langit-langit rumah surut di awal tahun 2000.

“Tapi pasca gempa bantul 2006, anyaman bambu kembali lakuk keras. Banyak pesanan untuk membangun rumah-rumah baru di sana. Harga permeter anyamaan bambu Rp. 20 ribu. Kalau sekalian pasang Rp. 40 ribu,” jelasnya.

Namun, lagi-lagi bisnis itu kembali kandas. Sesudah banyak rumah selesai dibangun di Bantul, pesanan sunyi senyap, Jumari dan Yunikem hanya bisa bertahan.

Sebab, hanya itu keahliannya. Beruntung, masih ada pedagang yang mau mengambil hasil anyaman bambunya. Kendati begitu, hasil tak mencukupi. Jumari pun tergerak mencari inovasi baru. Tidak sengaja, ia mendapatkan inspirasi dari Gunung Kawi,

Jumari mengisahkan, sejak muda dirinya suka berziarah ke makam-makam keramat. Dari hobinya berziarah. Suatu ketika Jumari melihat patung kepala orang dari kayu yang dijual di kompleks makam Gunung Kawi, malang.

“Waktu itu, saya dan istri kepingin banget. Tapi, tidak punya uang untuk membeli. Sambil di rumah, saya mencoba membautnya,” kenangnya.


“Tidak dinyana, Jumari bisa membuatnya. Malahan lebih bagus dari yang dijual di Gunung Kawi itu”, ujar Yunikem, yang ikut mendampingi Jumari.

Berawal dari patung kepala orang tersebut, Jumari mulai terbelik gagasan untuk membuat kerajinan tangan selain anyaman kulit bambu. Hampir setiap hari Jumari membuatnya. Lama-lama, ada teman yang suka dan membelinya.

Berawal dari satu teman beli satu, akhirnya kabar menyebar. Jumari pun dikenal sebagai pembuat kerajinan patung kepala orang dari kayu. Bentuknya beragam. Mulai dari bentuk orang tua dan tentara. “Waktu itu, orang lain ada yang menjual patung buatan saya ke Malaysia,” Aku Jumari.


Rezeki Cumplung


Melihat patung buatannya laku sedemikian keras. Jumari kian terlecut untuk berkreasi. Karena tak punya modal besar, dia hanya memanfaatkan bahan-bahan kayu sisa atau yang sekiranya tidak mahal. Seperti cumplung atau kelapa yang jatuh dari pohonnya karena busuk. Cumplung yang sama sekali tidak berguna itu, di tangan Jumari disulap menjadi komiditi ekspor yang memberi keuntungan hampir 90 persen.

Bayang saja. Jumari membeli satu buah cumplung seharga Rp. 500. Setelah dibuat menyerupai kepala monyet, harganya menjadi Rp. 10 ribu perbuah. Untuk membuatnya pun tidak perlu alat-alat berharga mahal. Bahkan tanpa pisau ukir.

Cukup dengan pisau dapur yang tajam, sisir kawat dan amplas. Dalam sehari, Jumari mampu membuat 10 buah patung. “Kalau pun ada tambahan biaya produksi, mungkin perbuahnya hanya membutuhkan dua ribu rupiah, “ kata Jumari.

Ide membuat patung kepala monyet dari cumplung itu, terinspirasi dari film Kera Sakti yang diputar setiap hari di sebuah stasiun teve. Ide itu kian menggelitik, manakala jumari sering melihat gambar monyet di lembaran uang kertas Rp. 500. Jumari akhirnya bereksperimen membuat patung kepala monyet dari cumplung.

Jumari tak pernah berpikir bagaimana cara untuk menjualnya. Selama barang itu unik, dia yakin pasti ada jalan untuk laku.

Benar saja, tetangga kanan kiri ada yang tertarik. Lalu, membawanya ke Pasar Beringharjo dan toko-toko kerajinan di Malioboro. Seiring waktu, Jumari juga rajin mengikuti pameran di berbagai tempat. Tahun 2002, mulai ada order dari orang asing. “Sekarang, setiap tahunnya pedagang dari Turki rutin memesan patung kepala monyet ini sebanyak 1.000 – 2.000 buah, ujarnya bangga.

Kreatifitas Jumari tak hanya sebatas itu. Doklak atau akar pohon bambu juga dibuat kentongan dengan bentuk menarik. Karena nilai fungsinya, kentongan dari bahan dongklak tersebut lebih laris manis.

Keuntungan juga sama dengan cumplung. Harga dongklak perbuahnya Rp. 500. Setelah jadi kentongan, harganya melambung menjadi Rp. 25 ribu. “Cara membuatnya juga mudah. Untuk memenuhi semua pesanan, saya juga tak pernah mencari karyawan dari luar. Tiga orang anak saya dan istri mampu memenuhi target,” pungkasnya.

Kemoceng, Bulu Ayam tumpuan hidup para Pedagang Kecil


Siang itu, suasana di sekitar jalan Malioboro sangat ramai. Di bawah terik matahari yang menyengat tubuh, dari kejauhan seorang pria separuh baya dengan kemeja kotak-kotak, dengan sandal jepit berjalan pelan di atas trotoar sambil sesekali berhenti di rumah dan toko yang dilewatinya. Berhenti sembari menawarkan dagangan yang ia pikul.

Pria itu bernama Djumari. Di usianya kini yang menginjak 54 tahun, ayak empat orang anak ini masih aktif bekerja untuk membiayai keluarganya. Usaha yang ia geluti saat ini memang terbilang jarang dilirik orang. Ia bekerja sebagai pembuat sekaligus pedagang kemoceng, yang terbuat dari bulu ayam.

“Saya hanya bisa membuat dan menjual kemoceng ini. Soalnya saya ndak sekolah, jadi ndak bias apa-aa. Orang tua saya dulu memang usaha ini (membuat kemoceng bulu ayam), jadi saya hanya meneruskan dan belajar dari mereka saja,” terangnya.

Djumari dan keluarga memang sejak lama menumpukan hidup mereka dari hasil usaha kemoceng ini. Tak ayal, Djumari pun sampai nekat menginap berhari-hari di Yogya dan meninggalkan keluarganya di Klaten untuk menjajakan kemoceng. “Dari dulu saya memang kalau jaualan ini (kemoceng bulu ayam,) di Yogya. Apalagi Yogya kan kotanya ramai, jadi peluang lakunya besar. Kalau di Klaten biasanya yang jual anak dan istri saya. Saya baru pulang ke Klaten kalau dagangan ini sudah laku semua, , soalnya kalau ndal laku ngapain saya pulang,” jelasnya.

Setiap harinya, hampir semua pasar tradisional di Yogya ia datangi untuk menjajakan dagangannya. Jarak puluhan kilometer ia tempuh dengan berjalan kaki, menyampangi pasar satu ke pasar lainnya. Ini ia lakukan untuk mengirit pengeluaran. “Kalau saya naik bis, nanti uangnya kurang. Mendingan uangnya buat makananak istri. Lagian kalau jalan bisa sekalian menawarkan dagangan ke rumah atau toko yang saya lewati, “ujarnya.

Djumari mengatakan, biasanya ia membawa 70 pucuk kemoceng bulu ayam berbagai ukuran dari rumahnya di Klaten. Jika ditanya kapan habis dagangannya tersebut, it pun tak bisa memastikan. Karena menurut Djumari, dalam sehari ia kadang bisa menjual 10 pucuk kemoceng, bahkan sering juga tak laku, sehari bisa dapat uang Rp. 100.000, tapi seringnya sepi. Soalnya sekarangkan jarang orang pakai kemoceng bulu ayam. Apalagi sekarang kemoceng berbahan dasar tali platik banyak beredar dipasaran dengan harga yang murah juga,” katanya.

Tahan Lama

Harga kemoceng yang dijual oleh Djumari memang sedikit mahal ketimbang kemoceng plastik. Pasarnya, satu kemoceng berukuran sedang ia jual dengan harga Rp. 15.000 dan Rp. 25.000 untuk kemoceng berukuran besar. “Harga kemoceng saya memang mahal, mau gimana lagi kaalau harga bahanbakunya memang tinggi. Ini saja semua saya kerjakan sendiri bareng keluarga di rumah. Saya jamin kemoceng buatan saya awet, soalnya saya memilih bahan baku yang berkualitas,” ujarnya sambil mempromosikan dagangannya.

Untuk menghemat biaya hidup selama berada di Yogya, Djumari pun memilih tidur di depan emperan toko di belakang Pasar Beringharjo. Tempat ini sengaja ia pilih karena jarang di razia oleh aparat dinas keamanan dan ketertiban (trantib). “Kalau malam kan yang tidur di sana (belakang Pasar Beringharjo) julahnya ratusan. Jadi mendingan tidur di sana saja, soalnya aman dan nyaman,” imbuhnya.

Tidur di belakang Pasar Beringharjo pun memudahkan Djumari menjajakan dagangannya, karena biasanya pasar ini mulai ramai didatangi masyarakat untuk membeli berbagai kebutuhannya mulai pukul 03.00 pagi. Selain itu juga memudahkan Djumari untuk sekadar mandi atau berganti baju, karena tersedia banyak toilet umum yang tersebar di sekitar pasar. “Biar saya jualan kemoceng, penampilan juga harus dijaga biar pembeli ndak kabur. Kalau pedagangnya bersih kan pasti pembeli ndak malas membeli atau melihat-lihat dagangan saya,” tandasnya.

Arang Bambu, Peluang bisnis dengan Harga Jual yang luar biasa

Multiguna


Selama ini potongan-potongan bambu limbah dari kerajinan mebel dan penganyaman gedhed, hanya jadi bahan bakar. Padahal, limbah bambu tersebut punyai nilai ekonomi yang menggiurkan, bila diolah menjadi arang.

Sebuah kelompok kegiatan bernama Omah Areng dusun Kamal Kulon Margomulyo Sayegan Sleman, tergerak mempelopori pengolahan limbah bambu menjadi arang ajaib. Kelompok yang berdiri pada bulan Mei 2009 itu, mampu menangkap peluang arang bambu menjadi bisnis yang berprospek cerah.

Limbah bambu yang dianggap tidak memiliki nilai ekonomi, disulap menjadi barang unik sekaligus menarikd an memiliki banyak kegunaan. Arang bambu bisa menetralkan bau ruangan, termasuk kamar mandi.

Menghilangkan bau apek pada lemari pakaian, menetralisir bau pada kulkas, menambah kandugnan mineral paa air, membuat pulen nasi, menyerap bau rokok di dalam ruangan serta mengurangi radiasi pada alat-alat elektronik seperti komputer dan televisi.

“Semua manfaat arang bambu sudah teruji secara ilmiah pada uji laboratorium universitas Gajah Mada,” ungkap Hidayat (30), sekretaris Omah Areng.

Menurut Hidayat, dengan hasil laborat yang menunjukkan arang bambu punya banyak manfaat. Hal tersebut membuat kelompok kegiatannya untuk berani dalam memproduksi serta memasarkan produk berbahan baku limbah kerajinan tersebut.

Apalagi sudah terbukti, arang bambu memiliki kemampuan untuk menjernihkan minyak goreng yang sudah dipakai beberapa kali. Caranya, arang bambu dimasukkan dalam minyak yang akan digunakan untuk menggoreng. Maka minyak akan tahan lama beningnya dan tidak akan buthek.

Membuat arang bambu, pada prinsipnya sama seperti membuat arang kayu. Sedikit pembedanya pada cara agar arang yang dihasilkan mempunyai multiguna.

Ada dua bentuk arang bambu : keping dan bumbung. Untuk bentuk arang keping yang diproduksi Omah Areng, ukuran panjangnya 10 cm, lebar 5 cm. Sedangkan bentuk bumbung, panjang 10 cm dan berdiameter 7 cm.

Bambu yang sudah dipotong sesuai ukuran, dibersihkan. Setelah itu dimasukkan oven atau tungku pembakaran. Oven terbuat dari drum.

“”Sementara ini kita baru punya dua tungku oven. Jadi untuk jenis keping bisa dipenuhi dengan kapasitas sebesar dua ribu. Sedangkan untuk jenis bumbung sekitar 700 batang,” kata Hidyaat yang mengaku lulusan STM 2 Yogyakarta.

Proses pembakaran sangat menentukan bagus dan tidaknya hasil. Dalam proses ini api dijaga betul derajat kepanasannya. Jangan sampai padam sebelum proses pembakaran sempurna.

Menurut Hidayat, arang yang bagus itu jika dalam proses pembakaran bisa mencapai kepanasan minimal 150 derajat celcius. Jika bisa melebihi angkat itu tentunya untuk arang akan lebih bagus lagi.

Untuk menjaga stabilnya api, setiap setengah jam dilakukan kontrol dengan termometer. Proses pembakaran untuk mencapai angka 150 derajat membutuhkan waktu sekitar 10 jam.

Senin, 04 Juli 2011

Mantan Tukang Becak Beromzet Rp 2 juta Sehari

Pantang Menyerah

Pahit getir kehidupan telah dialami Suharjo (42). Pria lulusan sekolah peternakan itu, pernah mburuh di Jakarta. Pernah pula jadi tukang becak dan kerja serabutan.

“Ternyata kerja mengandalkan ijazah, hasilnya tak seberapa,” tutur Suharjo, mengawali kisahnya. Kerja keras bertahun-tahun, tak membuatnya mengalami lonjakan kesejahteraan. Gajinya hanya cukup buat makan sehari-hari. Itu pun, dia harus bekerja ekstra keras. Ibaratnya, memeras keringat.


Kerja di Jakarta ternyata ak semanis yang dibayangkan. Demi tercukupinya kebutuhan harian, Suharjo berpetualang dari satu pabrik ke pabrik lainnya. “Upah yang saya peroleh selalu kurang. Makanya selalu mencari pabrik yang bias member upah layak. Ternyata, selama di Jakarta saya tak menemukan itu,” tambahnya.

Pengalaman kerja di Jakarta itulah yang membuatnya sadar. Tak mungkin bias menikmati hidup layak bila hanya kerja di pabrik. Maka, saat pulang ke Kulonprogo dan menikahi Tri Yuniarti, sebenarnya Suharjo tak mau lagi balik ke Ibukota. “Tapi, kami belum punya solusi. Di kampong tak ada pekerjaan. Terpaksa kami kembali lagi ke Jakarta, “kenangnya.

Lagi-lagi jadi buruh. Kerja di peternakan babi. Tapi, hasil minim. Lalu keluar, ganti haluan jadi penarik becak.

Lagi-lagi apes. Saat itu Pemprov DKI sedang ganas-ganasnya memusuhi becak. Suharjo di garuk petugas trantib.

Apes, tak selang lama, Suharjo sakit. Harus dirawat intensif. Dia diantar teman pulang ke Kulonprogo, opname. Istrinya tetap di Jakarta menghabiskan kontrak kerjanya di sebuah pabrik.

Pada alamat berikut, anda dapat melihat perubahan drastis yang secara nyata dirasakan oleh Suharjo

Sabtu, 02 Juli 2011

Kisah Nikah Siri yang Bermotif Ekonomi

Jika merujuk pada legal formal, nikah siri memang bertentangan dengan undang-undang. Tapi faktanya, tak sedikit pasangan memilih menikah secara siri dengan berbagai alasan.

Sebut saja Ulfa (19), gadis manis mahasiswi sebuah PTS terkemuka di Yogya utara ini naanya sudah disamarkan. Mengaku menjalani nikah siri sudah 2 tahun tepatnya, sejak lulus SMA.


Keinginan melanjutkan kuliah, menjadi alasan penting ketika menikah siri dengan duda beranak 3. Salah satu anak suami sirinya itu sebaya dengan Ulfa. Pertimbangan biaya kuliah menjadikannya mau dinikahi di bawah tangan. Dia berkisah, almarhum ayahnya dulu hanyalah seorang karyawan Swasta. Tak meninggalkan uang pensiunan. Dia anak sulung dari 4 bersaudara. Ibunya yang membuka warung makan kecil di Banjarnegara. Hasilnya tak mampu memenuhi semua kebutuhan. Apalagi bila harus mengkuliahkan Ulfa.

Makanya, dia rela dinikasi secara siri oleh seorang pengusaha yang berstatus duda. Semua dilakoninya demi mewujudkan keinginan untuk dapat melanjutkan kuliah, meraih asa. Menjadi sarjana ekonomi yang merupakan cita-citanya sejak kecil.

Sekarang, Ulfa tinggal di rumah kontrakan di bilangan Babarsari. Setiap sabtu ‘suami’nya selalu bertandang plus memberikan segala kebutuhan hidupnya selama seminggu ke depan.

Lain Ulfa, beda pula dengan Ariek (23) yang tinggal seatap dengan Joko (25). Tentunya nama itu sudah direka. Sepasang sejoli ini mengaku melakukan nikah siri semata untuk menyelamatkan diri agar tidak berbuat zina. Pernikahan siri itu dilakukan dengan sepengetahuan orang tua mereka.

“Kalau sekedar tunangan, itu belum sah. Aku takut terjerumus zina. Daripada tidak kuat nahan, ya nikah siri saja, secara agama itu diperbolehkan,” ungkap Ariek yang masih berstatus mahasiswa salah satu PTS di kawasan Lingkar Utara.

Nikah Siri merupakan realita yang menimbulkan pro dan kontra. Di tataran tertentu, erupakan solusi terbaik untuk tidak terjerumus perzinaan. Namun pada sisi lain, Pembenaran apapun tidak bisa diberlakukan untuk melegalkan nikah siri yang bertentangan dengan UU No 1 tahun 1974. “Mungkin sebelum adanya UU Perkawinan, praktek nikah siri banyak terjadi. Tapi setelah ada undang-undang itu, tidak lagi,” ungkap Kepala Kantor Departemen Agama Kabupaten Bantul Drs H Abdul Majid MA.

Sebenarnya esensi perkawinan atau pernikahan itu dilakukan untuk mendapatkan ketenteraman, sesuai dengan kaidah ajaran agama. Menikah itu selain untuk mendapatkan keturunan juga agar dapat dijadikan penenteraman diri. Dan perkawinan yang sesuai aturan, baik secara pemerintah, dan sah secara agama adalah perkawinan yang melalui lembaga yaitu KUA.

Nikah siri memang masih kontroversi. Bahkan pernah mencuat rencana memidanakan pelakunya. Dalam merespons itu, wakil ketua Komnas Hak Asasi Manusia, Hesti Armiqulan pernah melontarkan keberatannya bila pelaku nikah siri dipidanakan.

Dilihat dari perspektif hak asasi manusia, sesungguhnya menikah adalah atas kehendak bebas dari calon mempelai laki-laki dan perempuan. Kewenangan pemerintah adalah mengatur, bagaimana pernikahan dicatatkan sah oleh negara.

Apalagi UU No.1 tahun 1974 menegaskan, perkawinan sah dilakukan jika menurut hukum agama. Maka tahap pertama, harus dilakukan menurut hukum agama. Itu pertimbangan yang diajukan oleh Hesti.

Jadi, kriminalisasi pelaku nikah siri dianggap berlebihan.

Kamis, 30 Juni 2011

Kisah sisi buram dari Pergaulan dan Gaya Hidup

Pergaulan dan gaya hidup sering membuat orang hanyut. Susi, nama samaran wanita berumur 40 tahun ini. Posturnya tinggi langsing berwajah manis plus suport ekonomi keluarga, memungkinkannya dapat melebarkan sayap pergaulan.

Terbiasa bebas bergaul, membuat rumah tangga yang dibanggunnnya bersama dengan teman satu fakultas di PTS terkemuka tempatnya menimba ilmu, berantakan.

Dia tak betak ikut suami di Bandung. Dekat keluarga mertuanya, baginya itu ribet. Sedikit-dikit jadi bahan gunjingan. Hanya setahun betah serumah dengan suami. Susi pilih balik ke Yogya.

Awalnya, per beberapa bulan sekali sang suami menjengunya ke Yogya. Tapi lama-lama jadwal kunjungan semakin molor, lalu hilang. Bertahun-tahun tak ketemu suami. Meski secara legal formal, mereka masih terikat pernikahan.

Bagi Susi, ita tak masalah. Apalagi soal melepas kesepian. Dia punya banyak cara. Pergaulannya luas.

Perjalanan panjang membawanya bertemu dengan mantan pacarnya ketika di SMA, Rudi, sebuh saja begitu. Ternyata, benih-benih cinta masih tersisa di hati Susi. Apalagi, rumah tangganya sudah bertahun-tahun tak jelas. Susi semakin lengket dan terpesona pada sosok pria yang lebih dari 20 tahun silam pernah dekat itu.

Rudi pandai memanfaatkan situasi. Dia yang sepengetahuan Susi bekerja di perusahaan minyak asing di Kaltim itu mengaku sudah menduda. “Kenapa tidak menyemaikan benih cinta yang masih ada,” kata Susi dalam hati.

Susi kian lengket sama Rudi, bahkan dia nekat minta izin orangtuanya untuk mengikuti pujaan hatinya itu ke Kaltim. Keduanya lantas terbang ke Balikpapan. Alasan Rudi, saat itu izin cuti sudah habis. Harus segera masuk kerja.

Apa yang terjadi sesampainya di Kaltim? Ternyata pujaan hatinya itu sudah dipecat dari perusahaan minyak tempatnya bekerja. Lebih parah lagi, dia punya banyak wanita simpanan.

Dua bulan Susi bertahan di perantauan. Uangnya, puluhan juta rupiah, ludes untuk hura-hura Rudi. Dia tak bia mengadu ke keluarga. Mau cerita yang sebenarnya malu. Bahkan mengaku, sempat kana bunuh diri. “Untunglah ketemu orang yang terus memotivasi. Dia pula yang membeilkan tiket pulang ke Yogya, aku benar=-benar trauma,” tuturnya.

Rahasia Sukses, Belajar dari Kesalahan Mengelola Keuangan

Pantang Menyerah

Setelah lulus SD. Marsono menyusul ibunya ke yogya. Tapi, bayangkan bisa melanjutkan sekolah dengan mulus, kandas. Kelas II SMP dia drop out. Usaha orangtuanya, jual material bangunan, kembang kempis. Dia harus keluar sekolah. Lalu terpanggil ikut kerja membantu ibunya.

Bermodal ketekunan dan kejujuran Marsono ikut membantu usaha orangtuanya. Dia cermati, mengapa usaha orangtuanya tidak berkembang. Sampai akhirnya dia tahu dimana letak kesalahannya.

Sebab utamnya pada pengelolaan keuangan. Seharusnya uang hasil usaha digunakan untuk mengembangkan dagangan agar lebih besar. Tidak lantas digunakan untuk usaha yang lain.

Usia 18 tahun, Marsono berani menikahi Imukodah. Dari perkawinannya, kini dikaruniai tiga orang anak. Anak pertamanya, sarjana farmasi yang kini punya usaha apotek di Dlingo Bantul. Sulungnya itu telah memberinya cucu.

Anak kedua kuliah di Fakultas Hukum UII. Si bungsu masih di sekolah lanjutan. Kepada tiga anaknya dikenalkan bagaimana jerih payahnya mencari uang. Ada semacam kewajiban sepulang sekolah harus ikut membantu menjaga toko.

“Saya memulai usaha dengan modal Rp.35 ribu hanya cukup untuk sewa tempat,” uangkap Marsono yang merasa beruntung didampingi oleh istrinya Imukodah dalam melakoni lara-lapa.

Saat itu, tahun 1983, situasi sangat sulit. Langkah awal yang dilakukan, membuka usaha jual material. Awal mula usaha, hanya ada pasir satu cold dan batu bata titipan sebanyak seribu buah untuk menambah modal. Marsono menyewa becak yang kemudian digunakan untuk mengangkut sampah.

Dia jadi tukang buang sampah dari beberapa juragan kaya di seputar Karangkajen dan Prawirotaman. Ketika ada sampah bongkaran rumah, batu bata yang masih bisa dimanfaatkan, dia kumpulkan. Lantas ditumbuknya menjadi semen merah. Lalu dijual.

Imukodah berperan sebagai pengayak, menyaring remukan batu bata lembut (disebut semen merah). Itu pekerjaan berat dan butuh ketelatenan. Jarang ada perempuan muda yang mau menjalani pekerjaan itu.

Permintaan bahan bangunan sangat banyak dan lancar. Di antar sendiri semua pesanan dengan becak sewaan. Melayani konsuen dengan ramah, tepat waktu dan jujur. Itulah yang menjadi prinsipnya berdagang. Pesanan material semakin besar. Di tak sanggup lagi menanganinya sendiri.

Kemudian sewa gerobak sapi sekaligus dengan kusirnya. Perlahan dan pasti, usahanya berkembang. Aliran rezeki pun semakin lancar. Dan, untuk mendukung perkembangan usaha, tahun 1984, Marsono membeli colt bekas keluaran 1974 seharga Rp. 275 ribu.

“Prinsip memanfaatkan uang dengan benar. Maksudnya uang dari hasil usaha digunakan untuk menambah modal usaha. Untuk makan sehari-hari saya melakukan kerja sampingan buang sampah itu”, kenangnya.

Berkah dari ketekunan akhirnya mengucur bagaikan curahan hujan yang membasahi bumi. Banyak proyek yang mengambil bahan material dari pangkalannya.

Modal pun samakin kuat. Lantas, dia mulai membeli tanah yang dipakainya untuk tempat usaha secara bertahap. Sampai akhirnya tanah seluas 6 ribu meter persegi tuntas terbeli. Di tempat itulah kini menjadi lokasi bisnis Marsono bernama UD Ika Sari.

Ada dua bangunan yang besar dan megah di lokasi itu. Sebelah barat bangunan lantai dua dijadikan tempat tinggalnya. Sebelah timur bangunan yang luas, bagian depan dijadikan tOko, bengkel las dan pertukangan kayu.

Pun di sisa lahan yang begitu luas, tumpukan material pasir cukup tinggi menggunung. Bongkahan batu kali pun demikian.

Selain itu, di pekarangan belakangan digunakan untuk pabrik batako, paving dan loster. Untuk mengantar pesanan material ke konsumen sudah ada 10 armada colt dan 2 armada truk miliknya yang siap melayani pembeli.

Marsono benar-benar fokus pada usahanya. Segala macam bahan yang berkaitan dengan bangunan semua lengkap tersedia di tokonya. Kegiatan lainnya (las, pertukangan kayu dan pembuatan batako, paving, loster) semata untuk mendukung usaha barunya di dunia properti.

Sudah puluhan unit rumbah dibangunnya dengan harga lebih dari Rp. 300 juta per unit. Diapun mendulang penghasilan fantastis dari usahanya itu. Omzet perharinya kisaran Rp. 20 juta.

Meski demikian, semua itu tidak lantas membuat Marsono takabur. Dia tetap sebagaimana adanya. Sifatnya yang sederhana, dan tidak neko-neko. Dengan kelebihan harta yang dimilikinya dia pun tidak melupakan perjuangannya.

Sehingga secara tertib dia selalu menyisihkan keuntungan untuk sedekah, zakat dan membantu sesama yang membutuhkan pertolongan. Ini kedermawanan yang ketika kecil dulu, tak pernah terbayangkan.

“Semua ini wajib disyukuri. Bisa membantu banyak orang, setidaknya saya memiliki manfaat buat orang lain. Terlebih bagi keluarga,” tukasnya mengakhiri kisahnya pada Kedaulatan Rakyat.

Sekelumit kisah Tukang Sampah yang sukses menjadi Miliarder

Tak harus berpendidikan tinggi dan punya modal besar. Asal punya niat dan mau kerja keras, siapa saja punya hak meraih kesuksesan materi. HM Marsono (48), contohnya. Pebisnis bahan bangunan dan property ini, dulu bekerja sebagai tukang sampah. Masa kecilnya sarat penderitaan.

Sejak uur satu setengah tahun, Marsono keci sudah berpisah dengan ibu kandungnya. Orangtuanya cerai, ayahnya kawin lagi. Ibutnya merantau ke Yogya. Marsono ikut sang nenek tinggal di Boyolali. Dia memanggil neneknya itu dengna panggilan simbok. Usia 7 tahun, Marsono bias melihat wajah ibu kandungnya. Itu pun atas kebaikan hati pamannya, setelah dirinya merengek minta diajak pergi ke Yogya.

Masa kecil Marsono tidak memiliki keceriaan sebagaimana layaknya anak-anak seusianya. Untuk biaya sekolah harus bekerja mencari ramban (hjauan) pakan sapi di lereng Gunung Merbabu. Neneknya orang susah. Untuk makan sehari saja harus bekerja mencari ranting pohon dan kayu bakar di hutan lantas dijual. Makan nasi putih bagi Marsono kecil merupakan kenikmatan luar biasa. Sebab setiap hari dia selalu makan bulgur. Pun hanya satu kali sehari. Pagi mengenal yang namanya sarapan. Hanya sepotong singkong rebus yang dibawanya sebagai bekal mencari rumput di hutan.

Siangnya sepulang merumput, dia sekolah di SD Mrawon Gladaksari Ampel Boyolali. Dengan seragam sekedarnya tanpa sepatu. Marsono menapaki langkah pergi ke sekolah tanpa tahu kelak ingin menjadi apa. Dia tak memiliki cita-cita.

Lulus SD tahun 1977, Marsono bertekad ikut ibu kandungnya di Yogya. Harapamnya, dia bisa melanjutkan sekolah. Namun kenyataan berbicara lain. Sampai akhirnya Marsono harus rela hanya bisa sampai kelas II SMP dan drop out. Lalu dia sewa becak untuk mengangkut sampah rumah-rumah orang kaya seputaran Karangkajen, dibuang ke tempat sampah.

Tunggu tidak hanya sampai disitu. Pada alamat berikut ini anda bisa melihat perubahan cucuran keringan marsono yang mengalir sampai cucuran tesebut membawa dia mengalami perubahan nasibnya menjadi seorang Miliarder.

Dulu memanggul Kayu Keliling Wates, kini sebulan mampu meraup Puluhan Juta

Pantang Menyerah

Inilah sambungan kisah Salimin yang drop out kelas 1 SD, kini jadi juragan kayu yang boleh dibilang sukses. Raihan sukses itu, ternyata membutuhkan perjalanan panjang. Banyak tantangan harus dilalui.

Seiring bertambahnya usia, Salimin mulai bisa menimbang. Berjualan kelapa, layang-layang dan mengharapkan ada sisa kayu, tidak mungkin memberi kehidupan layak. Sementara itu, Salimin tidak punya ijazah. Apa yang bisa dilakukan hanya bekerja kasar sebagai buruh serabutan.

Dia terus berjuang sendiri. Pada usia sekitar 17-an tahun, Salimin bekerja sebagai kuli gergaji kayu di Wates. Dari pengalamannya bekerja sebagai kuli gergaji kayu itu, Salimin mulai mendapat inspirasi menjadi pengusaha kayu.

Tahun 1986, Salimin memberanikan diri untuk berjualan kayu glugu. Mulanya, hanya coba-coba. Setelah dilakoni dan ternyata keuntungannya hampir 50%, dia mantap berbisnis kayu. “Waktu itu, saya pinjam uang lima puluh ribu sebagai modal pertama,” katanya.

Dengan modal mepet itu, Salimin hanya berjualan kayu glugu dan kayu untuk kerangka rumah. Waktu itu, Salimin memanggul sendiri kayu-kayu jualannya ke kota Wates yang jaraknya sangat jauh. Angkutan barang masih jarang. Kalau pun ada, Salimin belum mampu membayar ongkosnya.

Seperti halnya usaha baru yang lain, jualan kayu glugu yang dilakoni Salimin tidak serta merta laris manis. Demi mendapatkan hasil, dia harus memanggul sebongkok glugu untuk ditawarkan keliling dari kampung ke kampung.

Jerih payahnya itu baru terasa hasilnya ketika menginjak tahun 1990-an. Order glugu meningkat. Momen tersebut dimanfaatkannya untuk mengembangkan usahanya dengan membuat blandar, kusen pintu dan jendela.

Enam tahun kemudian, usaha Salimin menemukan madunya. Relasi bisnis yang terbangun sejak jualan keliling dengan memanggul sebongkok glugu, sering memesan kayu ke rumahnya. Tidak terasa, dagangan kayunya laris manis. “Tahun 1996, saya harus menambah 2 karyawan karena pekerjaan yang semakin banyak,” katanya.

Seiring berkembangnya bisnis, karyawan yang direkrut pun terus bertambah. Kini, dia memiliki tenaga kerja penebang pohon sebanyak enam orang. Dalam sehari, Slaimin harus mencari sekurangnya 5 batang pohon untuk ditebang.

Dalam satu hari itu pula, Salimin harus mengeluarkan uang Rp. 5 juta untuk membeli lima batang pohon. Bahkan, lebih. Tergantung ukuran dan jenis kayu.

Sementara itu, untuk lebih mempercepat perputaran uang. Salimin melebarkan sayap dengan membuat almari, buffet, kursi dan barang-barang mebel lainnya. Tidak terasa, kini Salimin menjadi juragan kayu. Semua peralatan milik sendiri. Mulai dari gergaji mesin dan truk pengangkut.

Uniknya, Salimin tidak pernah mencatat berapa persis penghasilannya. Selama ini, dia hanya memutar uang.

Seluruh kebutuhan empat orang anaknya tercukupi. Setiap bulan, Salimin hanya tahu ada uang sekitar Rp. 20-an juta. Menurutnya, itu hasil jualan kayu. Sedangkan hartanya, tersimpan dalam bentuk tanah yang berada di desa Jamus dan Giripeni. Dua bidang tanah kosong miliknya itu seluas 500-an meter persegi. Sementara itu, Salimin juga menyewa sebidang tanah seluas 500-an meter di pinggir jalan desa jamus untuk membuka usaha penggergajian kayu.

Diakuinya, tidak pernah ada kendala terkait dirinya yang butu huruf. Baginya, selama bisa berhitung dan membaca angka, sudah cukup. Sedangkan untuk belajar membaca dan menulis huruf, Salimin mengaku sudah terlanjur malas. “Toh, dengan begini saja, saya mampu menghidupi keluarga,” akunya.

Terkait kendala bisnis, Salimin mengaku relatif tidak pernah menemui kendala berarti. Diakuinya memang ada beberapa orang yang memesan kayu tidak membayar. Jumlahnya jutaan rupiah. “Itu biasa, diiklaskan saja malah bisa menambah rezeki,” pungkasnya.

Minggu, 26 Juni 2011

Ternyata sangkar burung bisa menjadi sumber kehidupan ?

Bambu Gunung Mojo

Memasuki wilayah Gunung Mojo Argosari Sedayu Bantul, tepatnya beberapa ratus meter arah Utara pertigaan Klangon yang merupakan jalan alternatif menuju arah Magelang. Di kanan kiri jalan sudah terlihat pajangan sangkar bambu berjajar di beberapa rumah warga.

Tepat, daerah itu memang merupakan sentra kerajinan sangkar berbahan bambu. Ada baliho besar dari departemen perindustrian terpampang di sisi timur jalan yang menunjukkan bahwa wilayah Gunung Mojo merupakan sentra kerajinan sangkar.

Salah seorang pengrajin yang sudah puluhan tahun menekuni pekerjaan membuat sangkar dari bahan bambui ialah Mbok Wakinem (65). Menurut pengakuannya, membuat sankar dari bambu sudah dilakoninya sejak masih muda. Tepatnya sejak menjadi istri Ngatijo yang juga berprofesi sebagai pengrajin sangkar burung serta ayam.

Sebelumnya, Wakinem sebenarnya adalah seorang pengrajin tenun asli stagen. Karena tenunnya kurang begitu laku, setelah dipersunting Ngatijo, dirinya lantas ikut membuat sangkar sampai sekarang.

Menurut ibu tiga anak yang sudah menjadi nenek bagi 5 cucunya ini, membuat sangkar dari bambu bukanlah pekerjaan sulit. Hanya membutuhkan kesabaran dan ketekunan. Karena meraut satu persatu bilah bambu harus dilakukan secara manual. Selain itu, proses pembuatan sangkar pun membutuhkan ketelitian dan kecermatan. Agar jadinya bagus dan kokoh.

Sangkar buatan Mbok Wakinem memang berbeda. Selain lebih kokoh dan halus juga memiliki berbagai bentuk khas. Layaklah jika para pelanggannya tidak saja pembeli lokal dari DIY. Banyak yang datang dari Semarang, Cilacap dan Purwokerto. Beberapa di antaranya pedagang sangkar.

“Ada pedagang yang pesan sampe puluhan sangkar. Tentunya dengan harga yang berbeda,” ungkapnya sembari meraut bilah bambu.

Berbagai macam sangkar dengan variasi bentuk dan ukuran dibuat. Ada sangkar burung, ayam, bekisar, bahkan kandang kelinci. Tentu saja dengan berbagai variasi harga. Untuk sangkar burung, ada beberapa macam. Sangkar prenjak dengan iratan halus dipatoh dengan harga Rp. 25 ribu. Sangkar perkutut dibandrol dengna harga Rp. 35 ribu. Odel sangkar branjangan dengan bervariasi bentuk dijual dengan harga Rp. 60 – 70 ribu. Sedangkan kurungan khas untuk bekisar dijual seharga Rp. 75 ribu.

Selain sangkar burung, Mbok Wakinem juga menjual kurungan untuk ayam dan kandang kelinci khas dari bambu. Untuk kandang ayam Doubel dijual seharga Rp 200 ribu. Sedangkan kandang ayam kecil dijual dengan harga Rp. 100 ribu. Untuk kandang kelinci biasa dilepas dengan harga Rp. 40 – 50 ribu.

“Harga itu semua masih bisa ditawar. Biar untung sedikit tapi bisa jalan terus,” imbuh Wakinem yang mengaku bekerja membuat sangkar dilakukan setelah pekerjaan rumahnya selesai.

Setiap harinya, suami dan dibantu anak-anaknya yang banyak menyelesaikan semua pekerjaan kasar. Dari mencari bahan bambu, memotong, mengebor, menyetel dan memaku. Sedangkan dirinya sebatas pada meraut dan menata bilah bambu ke lobang yang sudah dibor. Meskipun begitu Wakinem mengaku tahu persis bagaimana sulitnya membuat sangkar.

Ketiga semua anaknya mengikuti jejak menjadi pengrajin sangkar. Menurut Wakinem sebetulnya pekerjaan apa saja asalkan halal itu pasti membawa rezeki. Dan dia sangat yakin, dari hasil membuat sangkar bambu bisa untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Dia sendiri membuktikan bisa membesarkan anaknya dan membiayai sekolah mereka.

Untuk bahan baku bambu, sekarang memang banyak kerajinan lain yang memakai bahan bambu. Jadi harganya juga agak mahal. Itupun harus memotong dan mengakut sendiri sampai ke rumah. Kalau membelinya sedikit, akan rugi di biaya transport.

Biasanya setelah bambu cukup banyak, baru diangkut sekaligus sampai satu truk penuh. Harga perbatang, asih berdiri di rumpun Rp. 5.000.

Menurut Mbok Wakinem, ada beberapa dagangan dari orang lain yang biasa dilakukand engan cara barter atau tukang barang. Mereka membawa beberapa barang dagangan hasil produksinya dengan menitipkan beberapa barang yang seharga.

“Ada beberapa barang titipin. Tapi barang hasil bikinan saya dibawa sama pedagang itu,” ungkap Mbok Wakinem.

Pada hari libur dan tanggal muda biasanya banyak pengunjung yang datang dan membeli sangkar burung ditempatnya. Sehari memang tidak bisa ditentukan, tapi sedikitnya delapan barang biasa terjual. Jika masing-masing barang seharga Rp. 50 ribu, artinya sehari bisa ada omzet 400 ribu. Wah lumayan juga.

Potret Ketekunan Pemintal Ijuk

Biasa kerja

Matahari pagi tiu terlihat sangat cerah. Mbah Karto Pawiro (90) memulai aktivitas hariannya dengan mengeluarkan lembaran-lembaran ijuk. Lalu ditumpuk di atas bale-bale kecil. Ijuk, serabut berwarna hitam seperti rambut, tumbuh di pangkal pelepah pokok pohon arena tau enau yang bahasa latinnya arenga pinnate. Dengan duduk selonjor di atas bale-bale, tangan terampil Mbah Karto Pawiro yang puna nama kecil Muserat memintal lembaran ijuk menjadi tali.

Proses pemintalannya sangat sederhana. Memilih-milih lembaran ijuk dengan menggunakan sekerat bilahan bamboo. Tapi biarpun begitu, tetap membutuhkan keterampilan khusus yang tidak setiap orang mampu melakukannya.

Pekerjaan langkat tersebut membutuhkan kesabaran. Mbah Karto sudah melakoninya sejak berusia 15 tahun. Ketika itu dia hanya membantu orangtuanya. Setelah menikahi Partiah di tahun 1951, ketika itu dia berumur 27 tahun, lantas hidup mandiri dengan menjadi pengrajin tali ijuk sampai sekarang.

Kulo mboten sekolah. Dados sagete naming kados niki (saya tidak sekolah. Jadi bisanya bekerja seperti ini),” pengakuan Mbah Karto Pawiro yang semasa mudanya pernah ikut memanggul senjata naik turun gunung selama 10 hari gerilya di sekitar Gunung Suh Godean. Dia tidak meneruskan menjadi tentara ketika itu, karena orang tua tidak mengizinkan. Orangtuanya takut kehilangan dirinya, selain itu dia juga tidak sekolah.

Rumiyen njih nate manggen ten Suryawijayan. Nang omah kula dipun obong Landa.Amargi kula gerilya. (Dulu saya pernah tinggal di Suryawijayan. Tapi rumah saya dibakar Belanda, karena saya seorang gerilyawan),” ceritanya sambil memainkan tangan memilin ijuk.

Buah perkawinannya dengan Partiah memiliki 5 anak, 2 laki-laki dan 3 perempuan yang kemudian memberinya 13 cucu dan 2 orang buyut. Semua anaknya sudah hidup mandiri. Anak pertamnya menjadi kepala sekolah di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Ada juga yang jadi pengusaha penggilingan padi.

Meskipun usianya sudah uzur, Mbah Karto Prawiro masih tampak sehat dan cekatan dalam memintal ijuk. Seharinya dia bisa menyelesaikan 15 sampai 20 ikat tali yang jika dijual perikatnya memiliki kisaran Rp. 3.000.

Tali ijuk buatan Mbah Karto Pawiro banyak diminati. Pelanggan biasanya datang sendiri dari Wates, Klaten, dan Purworejo. Ciri khas tali ijuk buatan kakek yang tinggal di Bendosari Sumbersari Moyudan Sleman ini memiliki pilihan yang halus dan kuat, sehingga bila digunakan untuk ngragum (mengikat) tidak mudah pudar dan awet. Dulu selagi tenaganya masih uat, dia menjual tali ijuk di Pasar Semampir Sedayu, sekarang hanya di rumah.

Soal bahan baku, sekarang sulit mencari Kalau pun ada, harganya mahal, Harga per lembar serat ijuk di pohon Rp. 3.000. Setelah di pasar menjadi Rp. 7.000/kg. Pasca gempa, karena banyal orang membutuhkan, harganya terus meroket. Apalagi sekarang banyak orang asing yang membuat rumah dengan menggunakan ijuk sebagai atapnya, harganya menjadi semakin mahal.

Dulu sewaktu masih muda, dia mencari bahan baku ijuk sampai Ambarawa, Jambu, Temanggung, Wonosobo, Parakan dan Gedono hanya dengan menggunakan sepeda. Berangkat sekitar pukul 04.00 dengan mengambil jalan pintas menuju Tempel. Jika hujan, jalannya becek dan lici. Setelah menyeberangi sungai Krasak sampai Muntilan, dia istirahat.

Lalu setelah itu melanjutkan perjalanan menuju Secang. Di sini pun istirahat sebentar, untuk selanjutnya meneruskan laku sesuai dengan daerah mana yang akan dituju. Proses hunting ijuk bisa berhari-hari tinggal di dalam hutan. Mengambil ijuk dari pokoknya, lantas mengumpulkannya. Setelah dirasa cukup banyak baru pulang.

Bisa tahu kalau daerah-daerah itu banyak pohon aren, diperoleh ketika ikut gerilya keluar masuk hutan semasa perang kemerdekaan 1946. “Ten alas niku njih tumbas, mas. Mboten kok mung mendhet (mengambil ijuk di dalam hutan itu membeli. Bukan Cuma hanya ambil),” tuturnya.

Menurut dia, hutan pada saat itu dikuasi oleh kelompok-kelompok orang. Setiap yang akan mengambil apa saja dari hutan, harus membayar kepada kelompok itu demi keamanan. Mbah Karto mengaku, tidak berani sembarangan mengambil hasil hutan. Ada yang lebih gawat lagi, berani coba-coba mencuri bakalan berabe. Bisa kesambet atau kena teluh Perut bisa melendhung betulan. “Ning kula maan, mas ten riku. Mboten wonten sing wani ngganggu. Pit mawon mboten ical (Di situ saya aman mas. Tidak ada yang berani ganggu. Sepeda ditinggal berhari-hari di sana tidak hilang),” kenang-nya.

Ada pengalaman yang tidak terlupakan selama hidup Mbak Karto Pawiro, sewaktu pulang dari Ambarawa. Sebelum memasuki Secang, karet rem ban sepedanya habis. Karena jalannya menurun, rem blong. Tanpa pikir panjang dia loncat dari sepeda yang sarat muatan ijuk. Sepeda terjungkal menabrak bug (jembatan kecil). Pulangnya terpaksa cari tumpangan truk. Dan harus jalan kaki dari Tempel sampai Moyudan. “Damel duk, saderma nyambung gesang Mas. Nak-anak pun sami mapan Mas,” begitu akunya menutup obrolannya.